Berita kepindahan eksekutif top dan bajak-membajak SDM mewarnai panggung bisnis telekomunikasi nasional beberapa waktu terakhir. Lihat saja, PT Excelcomindo Pratama Tbk. (XL). Yang paling hot adalah kehadiran Hasnul Suhaimi, mantan Dirut Indosat yang kini menjadi komandan (Dirut) XL. Perusahaan ini juga kedatangan Willem Lucas Timmermans, yang sebelumnya berkarier di Telkomsel, dan sekarang dipercaya sebagai Direktur Keuangan XL; dan I Made Harta Wijaya, mantan orang Indosat yang kini Vice President VAS & Layanan Baru XL. Bagi XL, di samping ada yang datang, ada pula yang hengkang. Contohnya, M. Danny Buldansyah, yang sebelumnya menjabat Direktur Network Services XL, pindah ke Bakrie Telecom. Sebelumnya, XL juga telah kehilangan salah satu veterannya, Kusnadi Sukardja, yang memilih menjadi Presdir PT Natrindo Telepon Seluler.
Fenomena SDM yang datang dan pergi di tubuh XL tergolong cukup mencolok. Seperti diakui Joris de Fretes, Direktur Pengembangan Human Capital XL, pihaknya kedatangan banyak muka baru di level manajer hingga staf. Maklum, tahun lalu XL merekrut sekitar 300 karyawan baru. Toh, Joris pun mengakui, perusahaannya kehilangan beberapa talenta andalannya – termasuk tiga GM dan sekitar 10 manajer – yang melompat ke operator lain.
Menurut Joris, derasnya arus bajak-membajak SDM di industri telekomunikasi disebabkan dua hal yang saling terkait. Pertama, bermunculannya pemain baru yang banyak melakukan proyek ekspansi, sehingga perusahaan-perusahaan itu membutuhkan banyak SDM. Kedua, tingginya demand tidak didukung supply pasar (SDM), terutama pasokan dari perguruan tinggi yang kurang. Akibat perebutan SDM ini, seorang insinyur yang baru bekerja 3-4 tahun yang seharusnya ditawari gaji dasar Rp 5-6 juta per bulan, “banderol”-nya jadi naik dua kali lipat.
Di industri telekomunikasi, sudah menjadi rahasia umum, turnover karyawan yang cukup tinggi memang tampak mencolok di tiga operator besar (Indosat, Telkomsel, dan XL). Toh, menurut Joris, tingkat turnover karyawan di XL dinilainya masih kecil, di bawah 5%. Ia menduga, penyebab utama turnover ini adalah gaji, di samping reputasi perusahaan, suasana kerja dan fasilitas kerja. “Memang kalau sudah berbicara gaji, banyak karyawan yang merasa tidak puas. Artinya, diberi berapa pun tetap saja tidak puas. Itu lumrah. Namun, berdasarkan survei internal, gaji ini menjadi salah satu faktor yang membuat mereka betah di sini,” ujar Joris. “Tapi, itu bukan berarti gaji di XL paling tinggi dibandingkan dengan perusahaan lain,” ia buru-buru menambahkan.
Joris mengatakan, sistem penggajian di XL sebenarnya sangat sederhana, dengan alasan tidak ingin administrasinya merepotkan. “Kami menganut model total cash, yakni hanya ada gaji pokok dan tunjangan transpor atau kendaraan,” paparnya. Tunjangan transpor, lanjut Joris, diberikan kepada karyawan level supervisor ke bawah; sedangkan tunjangan kendaraan (car allowance) disediakan untuk level manajer hingga direksi, dengan opsi bisa berbentuk cash.
Dibandingkan dengan Telkomsel dan Indosat yang dalam setahun bisa memberikan 18-20 kali gaji, Joris menyebutkan, karyawan XL hanya menerima 13 kali gaji. Akan tetapi, ia mengklaim, besaran gaji pokok yang diterima karyawan XL lebih besar dibanding karyawan Telkomsel dan Indosat. Joris sendiri tidak mau mengungkap angka pastinya. Ia hanya menyebutkan pasaran gaji di industri telekomunikasi, gaji pokok untuk seorang lulusan segar (fresh graduate) di kisaran Rp 4-5 juta per bulan.
Sumber: Majalah SWA Edisi Februari 2007




tolong kembangkan lagi website untuk PNJ dan selalu update truzz…. yach!!!!
saya br bekerja dipshn telekomunikasi terbesar di indonesia, utk fresh graduate spt saya diberi gaji pokok 3jt pas. tp msh ada tunjangan2 lainnya.
Saya seorang dosen tetap di Universitas swasta, bicara soal gaji pokok saya 230.000 sebulan, tunjang S-2 : 23.000 sebulan, sekarang saya sudah S-3 bidang Teknik Elektro Teknik Telekomunikasi dari Universitas Indonesia (baru lulus).
Kalau saya ingin bertanya bila saya kerja diindustri telekomunikasi berapakah gaji saya? ya perkiraan aja ..
Add A Comment